SEKILAS INFO
  • 1 tahun yang lalu / Infaq Rek. BSM. 713-998-9877 a.n Yayasan Visi Global Indonesia
WAKTU :

HAKIKAT WAKTU DI DUNIA

Terbit 23 January 2021 | Oleh : arhamysn | Kategori :
HAKIKAT WAKTU DI DUNIA

Allah swt. berfirman :

وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ كَأَن لَّمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا سَاعَةٗ مِّنَ ٱلنَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيۡنَهُمۡۚ قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَآءِ ٱللَّهِ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ

 “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari, (pada waktu) mereka saling berkenalan. Sungguh rugi orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.” [Surat Yunus 45]

 

Ayat di atas menggambarkan bagaimana perasaan manusia saat Allah mengumpulkan mereka semua di hari kiamat. Saat itu semua merasakan seolah tidak tinggal di dunia melainkan hanya sesaat saja di waktu siang hanya sekedar berkenalan.

 

Ayat-ayat yang lain yang semakna dengan ayat di atas sangat banyak Allah swt. sebutkan di dalam Al Qur’an, yang menegaskan kepastian fenomena tersebut di hari kiamat.

 

Bahkan hakikat fenomena tersebut pun sudah bisa kita rasakan saat ini. Saat kita menengok ke masa lalu kita, kita semua pasti merasakan seolah waktu berjalan sangat cepat. Meski waktu sudah berlalu begitu lama, ketika kita menengok ke belakang, semua terasa baru saja berlalu. Meski sudah berlalu berahun-tahun yang lalu, namun terasa seolah baru kemarin.

 

Ramadhan tahun yang lalu seolah baru saja kita lalui, namun tiba-tiba kita sudah dihadapkan pada Ramadhan berikutnya. Bahkan Ramadhan bertahun-tahun yang lalu pun seolah juga baru saja kita lewati.

 

Saat kita bertemu dengan teman-teman kita di masa kecil atau teman-teman saat sekolah, – baik melalui silaturrahim personal, reuni, group watsapp, facebook, dan sebagainya – seolah masa itu baru saja berlalu, berbagai kenangan saat itu masih sangat melekat di dalam benak, dan berbagai peristiwa masih tergambar jelas dalam pikiran. Namun tiba-tiba boleh jadi saat ini kita sudah memiliki anak-anak, bahkan cucu-cucu yang seusia kita dahulu.

 

Seperti itulah hakikat waktu dalam kehidupan dunia. Waktu hidup di dunia sangatlah singkat. Apalagi jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat kelak. Di mana Allah swt. menyatakan dalam firman-Nya:

 

وَإِنَّ یَوۡمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلۡفِ سَنَةمِّمَّا تَعُدُّونَ


“… Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”[Surat Al-Hajj 47]

 

Jika satu hari di sisi Allah sama dengan seribu tahun dalam hitungan manusia, maka usia 60 – 80-an tahun di dunia hanya sebanding dengan satu setengah sampai dua jam saja di sisi Allah swt. Sehingga sangat wajar dan masuk akal jika perasaan manusia saat dikumpulkan di akhirat kelak seolah tidak tinggal di dunia melainkan hanya sesaat saja untuk berkenalan.

 

Apalagi membayangkan waktu di akhirat yang unlimited atau tidak ada batas akhirnya. Sedangkan waktu di dunia tidaklah bersifat unlimited. Jatah waktu hidup di dunia ada batas waktu yang telah ditetapkan. Bahkan keberadaan dunia pun juga ada batas waktunya.

 

Patutlah kita selalu merenung, akankah waktu di dunia yang sangat singkat dan sangat terbatas tersebut berlalu begitu saja?!..
Akankah berlalunya waktu hanya berdampak tambah usia dan tambah tua saja bagi kita?!.
Apa yang sudah kita lakukan & persiapkan untuk bekal menghadapi waktu yang tak memiliki batas akhir di akhirat kelak?!..

 

Meskipun waktu di dunia sangat singkat dan sangat terbatas, namun pada hakikatnya waktu yang Allah berikan tersebut sangat cukup bagi kita untuk menjalankan tanggung jawab kita beribadah kepada Allah swt. , dan cukup bagi kita untuk mengambil pelajaran dari setiap petunjuk dan peringatan Allah swt.

 

Perasaan tidak cukup boleh jadi hanyalah karena kita tidak pandai memanfaatkan waktu yang Allah berikan kepada kita dengan baik, atau mungkin karena kita salah fokus dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

 

Rasulullah saw. pun telah memberikan warning kepada kita sejak lama dalam Sabdanya:


نِعْمَتَانِ مَغبونٌ فيهما كَثيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ، وَالفَرَاغ

 

“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia menyia-nyiakannya, (yaitu) (nikmat) sehat dan kesempatan” (HR. Al Bukhâri).

 

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا. وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فَيهَا مَعَاشُنَا. وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا. وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ. وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

 

” _Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan penjaga urusan kami. Perbaikilah dunia kami sebagai tempat penghidupan kami, perbaikilah akhirat kami yang ke sanalah tempat kembali kami, jadikanlah dunia sebagai tempat menambah segala kebaikan bagi kami, dan jadikan kematian sebagai pemutus segala keburukan bagi kami_”

 

آمين يا رب العالمين

 

Arham Ahmad Yasin

(Ketua DKM Az-Zuhdi)

SebelumnyaCara berbakti kepada kedua orang tua yang sudah meninggal dunia

Tausiyah Lainnya